Larangan-Larangan Bagi yang Berhadats


Agama Islam adalah agama yang sempurna. Salah satu bentuk kesempurnaannya adalah syariatnya mencakup setiap lini kehidupan manusia. Tidak ada satu pun yang berkaitan dengan kehidupan manusia kecuali telah diatur dalam agama ini. Tidak terkecuali dalam masalah kebersihan dan kesucian, syariat islam telah menjelaskan begitu detail dan terperinci dalam masalah ini. Syariat Islam menjelaskan cara bersuci dari hadas (baik dengan wudhu maupun mandi), dan juga bagaimana bersuci dari najis, bahkan menjelaskan dengan detail bagaimana adab-adab dalam membuang hajat. Sehingga tidak berlebihan jika katakan agama islam adalah agama kebersihan dan kesucian.

Berkaitan masalah bersuci (thaharah) tulisan kali ini akan membahas tentang beberapa larangan bagi seorang yang berhadas. Pembahasan ini kami sarikan dari kitabMulakhos Fiqhiyahkarangan guru kami, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzanhafidzahullah taala( Kitab ini merupakan ringkasan dari kitabAr Raudh Al Murbi Syarh Zaad al Mustaqni). Semoga bermanfaat.

Terdapat beberapa amalan yang dilarang bagi setiap orang yang berhadas selama ia belum bersuci dari hadasnya, baik hadas besar maupun kecil. Selain itu terdapat juga beberapa amalan yang khusus dilarang bagi orang yang berhadas besar saja.

Pertama, Hal-hal yang dilarang bagi seorang yang berhadas (baik besar maupun kecil):

1.Menyentuh mushaf Al Quran.

Seorang yang berhadas dilarang menyentuh (tanpa pembatas) mushaf Al Quran sebagaimana Allah berfirman,

tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan(QS. Al-Waqiah: 79)

Maksudnya adalah suci dari hadas baik karena junub maupun yang lainnya. Hal ini sebagaimana dikatakan sebagian ulama bahwa yang dimaksud dalam ayat diatas adalah dari golongan manusia. Akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa dalam ayat di atas maksudnya adalah malaikat yang disucikan. Meskipun ditafsirkan bahwa yang dimaksud dalam ayat di atas adalah para malaikat yang mulia maka tercakup juga didalamnya hukum (larangan) bagi manusia dengan dalil isyarat akan hal itu.

Sebagaimana dalam sebuah tulisan yang ditulis Rasulallahshallallahu alaihi wasallamuntuk penduduk Yaman dalam hadist Amru bin Hazmradhiyallahu anhu, Rasulallahshallallahu alaihi wasallambersabda Tidak boleh menyentuh al quran kecuali orang yang dalam keadaan suci.1

Berkata syaikhul Islam ibnu Taimiyahrahimahullahtentang larangang menyentuh mushaf bagi orang yang berhadas, Hal itu adalah madzhab imam yang empat2. Berkata ibnu HubairahrahimahullahdalamAl Ifshaah,Telah ijma -yakni imam yang empat- bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang yang berhadas menyentuh mushaf.

Sehingga, tidak mengapa bagi seseorang yang berhadas membawa mushaf dalam saku atau dalam kantong tanpa menyentuhnya. Dan juga tidak dilarang melihat atau menatapnya tanpa menyentuhnya.

2.Sholat, fardhu maupun nafilah.

Ini adalah ijma ahli ilmi. Berdasarkan Firman Allah,

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah. (QS. Al-Maidah: 6)

Juga berdasarkan hadist Nabi,Allah tidak menerima shalat tanpa disertai bersuci... Diriwayatkan imam Muslim dan yang selainnya3.

3.Thowaf di baitullah.

Berdasarkan Sabda Rasulallahshallallahu alaihi wasallam,Thowaf di baitullah adalah (serupa dengan) sholat, hanya saja Allah memperbolehkan berkata-kata didalamnya4. Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama salah satu syarat sahnya shalat adalah bersuci, sehingga demikian juga dengan thawaf.

Kedua, larangan khusus untuk orang yang berhadas besar (junub,nifas,haidh):

1.Membaca Al Quran.

Berdasar hadist dari Aliradhiyallahu anhu,Tidak ada yang menghalanginya yakni Rasulullah- dari Al Quran sesuatupun kecuali junub. Hadist ini diriwayatkan Tirmidzi dan selainnya5. Hadist tersebut menunjukkan larangan membaca al Quran bagi seseorang yang junub. Temasuk didalamnya juga hadas besar karena nifas maupun haidh. Sebagian ulama memberi keringanan diperbolehkannya bagi wanita yang sedang haidh untuk membaca al Quran jika ditakutkan hilang hafalannya. Diantaranya adalah Syaikhul Islam ibn Taimiyah6.

Tidak mengapa seseorang yang dalam keadaan berhadas membaca dzikir yang mana didalamnya terdapat ayat al Quran misal lafadz dan sebagaimana hadist dari Aisyahradhiyallahu anhabahwa Rasulallah bedzikir kepada Allah pada setiap keadaan7.

2.Menetap atau Berdiam di dalam Masjid.

Dilarang bagi seorang yang berhadas besar menetap/berdiam didalam masjid. Hal ini berdasarkan firman Allah,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi..(QS.An-Nisa: 43)

Selain itu juga berdasarkan sabda Rasulallahshallallahu alaihi wasallam,Tidak dihalalkan masjid bagi orang yang haidh dan juga bagi orang yang junub8

Namun diperbolehkan bagi seseorang yang berhadas besar berdiam di masjid dengan syarat berwudhu terlebih dahulu. Sebagaimana dikatakan Atho (seorang tabiin terkenal), Saya telah melihat beberapa sahabat Rasulallah berdiam di masjidmereka dalam keadaan junub tetapi mereka telah berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Hikmah wudhu dalam hal ini adalah untuk meringankan hadas.

Diperbolehkan juga bagi orang yang berhadas besar untuk sekedar lewat di dalam masjid tanpa duduk di dalamnya berdasar firman Allah:

.

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulallah serta keluarga dan sahabatnya.

Maraji:

[1]. Diriwayatkan dari hadist Amru bin Hazm. Malik (297), Daruquthniy (433), Baihaqiy (409), al Hakim (6122), Darimiy (2183). Berkata imam Ibn Abdil Barrrahimahullah, Sesungguhnya hadist tersebut menyerupai hadist mutawatir karena penerimaan manusia terhadapnya. lihatAt Tamhiid(17/338-339).

[2]. Majmu Fatawa (21/266).

[3]. Diriwayatkan oleh banyak sahabat. Dikeluarkan oleh imam Muslim dari hadist ibnu Umar (224).

[4]. Dikeluarkan Tirmidzi dari hadis ibnu Abbas (961). Dishahihkan oleh Albani, lihat Irwaul Ghaliil (1/154 no 121).

[5]. Dikeluarkan Ahmad (627), Abu Dawud (229), Tirmidzi (146), NasaI (266), Ibnu Majah (594).

[6]. Majmu Fatawa (26/179).

[7]. Dikeluarkan Muslim dalam Shahihnya (373), disebutkan Bukhari sebagai taliq (1/527).

[8]. Hadist Aisyah dikeluarkan oleh Abu Dawud (232), Ibnu Khuzaimah (1327). Dikeluarkan ibnu Majah dari Ummu Salamah (645).

Selesai ditulis di Riyadh,24 Safar1432H (28 Januari2011)

Abu Zakariya Sutrisno

Artikel: www.thaybah.or.id /www.ukhuwahislamiah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s