Peraduan

Bumiku peraduanku
pembaringan yang sepi beranda yang dingin.

Di saat maut menjemput, peraduanku meraup jazad ini sepanjang usia yang telah tertutup
pun tulang dan daging ini tak kan pernah menjadi besi atau batu,
ini cuaca pertanda lapuk panas dan dingin sepanjang hari
derita hidup tak mungkin selamanya teratasi
tak ku biarkan peraduan ini memanjakan hati
atau biarkan langkah kaki mencari jalan sendiri, mengobati luka perih di bumiku
di peraduanku.

Bumiku
peraduan sepi
tempat aku mengerti arti hina dan sedih
dalam segala khalwat meratap menangis
di sini aku berjuang dan menghikmati segala makna cinta yang hakiki
abadi

Bogor 23 Desember 1995

Halusinasi

Kamis wage malam jum’at kliwon
ku tabur kembang dan ku bakar kemenyan
di sisi makam bundaku yang telah rapuh dimakan rayap
asap wangi dupa mengingatkanku pada kematian
yang dalam hidupku paling aku takutkan.

Kematian ?
Begitu mengerikankah kematian ?
Yang ditinggal menangis meratap-ratap
sambil tak lupa mengingat-ingat
seberapa besar kelak warisan yang didapat
sang arwah sendiri entah celaka entah selamat
tetangga sekampung turut memanjatkan doa
padahal ditanggung sendiri seluruh amal perbuatan
sewaktu hidup di dunia.

Aku terjaga
sebuah tangan lembut menjamah pundakku
ternyata aku bermimpi
yang membuatku tak bisa terlelap lagi.

Ah, kematian…
benarkah di dunia ini ada kematiam ?
Ku layangkan pandangan ke langit,
hanya kelam
tak ada bintang gemintang
ku sapa angin dingin yang menusuk tulang
kebekuannya mengantarkan aku pada sebuah pintu
tinggi dan kokoh
tertutup rapat
di bagaian mana aku mengetuknya
atau akan ku ucapkan salam saja
tapi sunyi tiada jawaban
desah nafas kecewaku musnah ditelan kegelapan
aku berpaling
aku galau
amat kecewa
entah mengapa
satu pertanyaan tiada jawaban
tiba-tiba ku dengar suara tawa menggema
ku sangka jin atau malaikat
hendak mencabut sukmaku
tidak !
Aku takut dijemput maut !
Tidak ?
Kematian sendiri aku tak tahu.

Aku terkejut
sebuah tangan lembut menyentuh pundakku
aku menggigil kedinginan
jatuh bergulingan
ternyata aku bermimpi
di saat aku bermimpi…

Jakarta
29 Oktober 1995

Cinta Dan Kasih Sayang

Goresanku bertinta merah
lambang kecemburuan dalam cinta
sedikitpun aku tak berdusta
kaulah milikku seorang !

Tapi mukamu merah padam,
jangan !

Damaikanlah hatimu
bersatulah dalam jiwaku
kasih sayangku abadi.

Semangatmu menyala-nyala,
berjuanglah !

Dengan gelora di jiwa
kau dan aku bersatu selama-lamanya
dalam suka dan duka.

Jakarta
27 November 1995

– –

Cermin

Aku berkaca di depan cermin
agar dapat ku nikmati wajahku yang ayu rupawan
barangkali di wajahku ini tersembunyi keagungan
agar dapat aku berbangga pada setiap orang
dan cermin itu mengatakan dengan sungguh
aku seperti yang ku sangkakan
barangkali kemuliaan !

Sepuluh tahun telah berlalu
cermin itu telah kusam dan retak-retak
aku berkaca lagi di depan cermin itu
ku hayati dalam-dalam
aku terkejut bukan kepalang
wajahku terpetak-petak !
Seperti rasa hatiku yang terkotak-kotak
aku makin ngeri dan ketakutan
di dalam cermin itu
bibir tuaku tersenyum
dengan senyuman yang tak lagi menawan.

Ku sangka diri ini bahagia
dengan keagungan dan kemuliaan yang dibangga-banggakan
ku kira diri ini penuh keindahan dan keabadian
ternyata jasad rapuh ditelan usia.

Aku gelap mata
cermin itu aku banting
hancur berantakan
hilang bayang wajahku
musnah senyum nestapaku.

Cermin
saksi kejujuran
tunjuki aku gambar sebenarnya
mestinya
bukan hanya kepadamu aku mengaca
tiap orang lain adalah cermin
alam semesta adalah cermin
kegagalan dan keberhasilan adalah cermin
mengajari kita bijaksana.

Cermin
telah hancur berantakan
serpihmu membiaskan sinar
hati kecilku mendapat cahaya penerang
meski hancur, kau tetap cermin
yang teguh dalam kejujuran.

Jakarta
29 Oktober 1995

– – –