Pernahkan Anda memiliki sebuah keinginan, kemudian mempersiapkannya, mengerjakannya, memeras keringat membanting tulang, bersujud dan berdo’a, sehingga keinginan itu hampir di depan mata, sedetik lagi hampir meraihnya dengan tangan dan hati penuh bergetar, namun karena sesuatu hal, keinginan itu berbuah kegagalan setelah menghabiskan segala daya dan upaya?

Berapa banyak keinginan Anda yang berhasil terwujud menjadi kenyataan, berbuah manis dan kenikmatan, kemudian bersyukur tiada henti sambil memuji : Terima kasih Tuhan, Engkau Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang ?

Apakah Anda selalu gagal dalam mewujudkan keinginan Anda ? Ataukah keinginan Anda realistis dengan keadaan dan kemampuan Anda ?

Keinginan adalah hak setiap insan, dan hak setiap insan untuk memperjuangkan keinginannya itu menjadi kenyataan.

Seberapa besar keinginan itu membelenggu kehidupan Anda sehingga Anda merasa tidak bahagia ?

Jika Anda ditakdirkan menjadi orang yang selalu gagal, bahagiakah Anda ? Atau Anda selalu meraih kesuksesan, sedihkah Anda ?

Aku pernah menjumpai seorang pedagang kecil di sebuah pasar yang telah laris dagangannya sehingga dia pulang ke rumah lebih awal dari biasanya. Kemudian dia istirahat sambil berbaring di dipan kayu diteras rumahnya yang terbuat dari pagar sehingga diapun tertidur pulas. Sang istri yang melihat kejadian ini lantas bergegas menghampiri suaminya, membangunkannya dan berkata : “Pak, apakah tidak lebih baik kalau kita belanjakan lagi keuntungan kita hari ini dengan dagangan yang lebih besar dan banyak, sehingga kelak usaha kita lebih maju lagi, punya toko sendiri, beli motor, mobil, membangun rumah mewah, punya pembantu, membahagiakan anak-anak dan demi kebahagiaan hari tua kita nanti ?” kemudian lelaki pedagang itupun terbangun, duduk berhadapan dengan istri tercinta, sambil membelai rambutnya diapun berkata : “Bu, apakah selama ini kita dan anak-anak tidak bahagia ? Aku tidak pernah mencari kebahagiaan, karena kebahagiaan harus kita ciptakan sendiri, bukankah kita harus selalu bersyukur ?”