WAKTU
Perjalanan waktu dirasakan seseorang berlainan. Dekat menurut seorang berbeda dirasakan orang lain, begitu juga jauh, lama, sejenak dan seterusnya. Oleh karena punya ukuran masing-masing yang dirasakannya. Demikianlah yang akan dirasakan manusia di akhirat kelak atas lamanya kehidupan di dunia hanyalah ‘sehari’ : ‘Tidaklah kalian telah tinggal kecuali sehari’.” (Thaa Haa 20:104)
Pernyataan ini dikemukakan juga pada Al-Ahqaafu 46:35, akan tetapi tidak sehari penuh melainkan ‘al’n-Nahaar’ (اَلنَّهَارُ) siang-hari saja (Yunus 10:45), atau ‘asyiyyatan’ (اَلشِيَّةً) waktu ‘isyaa’ malam-hari atau ‘dluhaa’ (ضُحٰ) waktu-dluhaa, matahari naik sepenggalah (Al’n-Naazi’atu 79:46). Maka ‘asyrun’ pada 20:103, bukanlah sepuluh hari (dibahas lebih lanjut pada masalah ‘langit’).
Itu menurut logika-rasa, dan seperti itu pula menurut logika-sains. Satu hari Bumi, berbeda dengan sehari Mars atau Venus, bahkan jauh perbedaannya dengan sehari solar-system saja, apatah lagi Galaksi dan Alam Semesta. Itu diungkapkan juga da lam Surah 32:5 bahwa ada sehari berkadar 1.000 tahun Bumi, bahkan pada Surah 70:4 dinyatakan sehari berkadar 50.000 tahun Bumi.
Namun penciptaan alam semesta bukan selama enam hari seperti dipahamkan di atas – sittatin ayyaamin bermakna enam hari-hari – melainkan enam periode atau
maasa.
Maka dari itu dapat dipahami, bahwa kiamat yang dinyatakan ‘dekat’ itu belum juga terjadi hingga kini dan entah sampai kapan, karena rahasia Allah. Dan lamanya manusia hidup di dunia dirasakan ‘sehari’ itu, yang dimaksudkan Al-Mu’minuwn 23: 113 dengan ‘yawman ba’dla yawmin’ (يَوْمًا بَعْضَ يَوْمٍ) alias ‘qaliylan’ (قَلِيْلاً) sedikit-wak tu, menurut Allah pada Al-Mu’minuwn 23: 114.
Akan tetapi tidak menganulir kata “kekal” jadi berbatas. Memang benar ungkapan ‘dekat-jauh’ itu nisbi adanya, tetapi ‘kekal’ bersifat ‘mutlak’. Kekal pada seseo rang kekal juga bagi yang lain.
Kontroversial jika akhirat yang dinyatakan kekal itu akhirnya akan lenyap dalam ketiadaan lagi seperti semula, kembali kepada Allah.
Di sini perlu pemahaman lebih lanjut tentang makna ‘kekal’ dan ‘kembali kepada Allah’ sepanjang penggunaannya di dalam Al-Qur-an.
Sebenarnya ide ‘Ternyata AKHIRAT TIDAK KEKAL’ itu sudah terbantahkan hingga di sini, tapi perlu meluruskan argumentasinya berdasarkan asumsi-asumsi atas penafsiran beberapa ayat Al-Qur-an.
KEKEKALAN AKHIRAT
Kekekalan Akhirat banyak diinformasikan dalam Al-Qur-an, di antaranya mewakili ayat senada lainnya, sebagai berikut :
ذٰلِكَ جَزَاءُ أَعْدَاءِ اللهِ النَّارُ لَهُمْ فِيْهَا دَارُ الْخُلْدِ جَزَاءً بِمَا كَانُوْا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُوْنَ
(فُصِّلَتُ ۴۱:۲۸)
“Itulah balasan – musuh-musuh Allah – Neraka baginya, padanya negeri-kekal, balasan terhadap orang-orang yang menentang ayat-ayat Kami.”
(Fushshilatu 41:28)
اِدْخُلُوْهَا بِسَلٰمٍ ذٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُوْدِ (ق ۵۰:۳۴)
“Masukilah Surga itu dengan salaam, itu- lah hari-kekal.” (Qaaf 50:34)
يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِااللهِ وَيَعْمَلْ صَالِحاً يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَداً ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ (اَلتَّغَابُنُ ۶۴:۹)
“Hari kalian berkumpul pada Hari-Kumpul an, itulah Hari-Taghaabun. Dan siapa ber iman dengan Allah dan beramal shaalih ditutupi tentangnya keburukan dan dima sukkannya (ke dalam) Surga-Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal padanya selamanya. Itulah kesuksesan yang agung.”
(Al’t-Taghaabunu 64:9)
إِلاَّ بَلَاغاً مِّنَ اللهِ وَرِسَالاَتِهِ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَداً (اَلْجِنُّ ۷۲:۲۳)
“Kecuali penyampaian dari Allah dan Risalah-Nya, dan siapa durhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginya Neraka Jahannam, mereka kekal padanya sela manya.” (Al-Jinnu 72:23)
وَاْلآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (اَ ْلاَعْلَى ۸۷:۱۷)
“Dan Akhirat lebih baik dan amat kekal.” (Al-A’laa 87:17)
Ayat-ayat di atas menerangkan kekekalan Akhirat, baikpun di Neraka (sebagai Negeri-Kekal, keberadaan penghuninya kekal) maupun di Surga (Hari-Kekal, keberadaan penghuninya kekal). Bahkan dinyatakan ‘abada’ selamanya, yang mentawkidi/mengukuhkan ‘khaalidun’ orang-orang yang kekal. Jadi betul-betul kekal. Dengan ungkapan lain ‘abqaa’ amat kekal, betul-betul kekal.
Akan tetapi, Surah Huwdu 11:106-108 menjelaskan :
فَأَمَّا الَّذِيْنَ شَقُواْ فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيْهَا زَفِيْرٌ وَشَهِيْقٌ
(هُوْدُ ۱۱:۱۰۶)
“Adapun mereka yang celaka maka dalam Neraka, bagi mereka padanya yang merintih (memekik lirih) dan tersedu-tangis.” (Huwdu 11:106)
خَالِدِيْنَ فِيْهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيْدُ
(هُوْدُ ۱۱:۱۰۷)
“Mereka kekal padanya selama ada Al’s-Samaawaat dan Bumi kecuali apapun yang Rabb-kau kehendaki. Sesungguhnya Rabb-kau yang melakukan bagi apapun yang Dia inginkan.” (Huwdu 11:107)
وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُواْ فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِيْنَ فِيْهَا مَا
دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاءِ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوْذٍ (هُوْدُ ۱۱:۱۰۸)
“Dan adapun mereka yang bahagia maka dalam Al-Jannah (Surga), mereka kekal padanya selama ada Al’s-Samaawaat dan Bumi kecuali apapun yang Rabb-kau kehendaki, (sebagai) pemberian yang tiada putus.” (Huwdu 11:108)
“Ayat di atas bercerita tentang keadaan penduduk Neraka dan penduduk Surga. Dikatakan oleh Allah, bahwa mereka itu akan kekal di dalam Surga atau Neraka, selama ada langit dan bumi.
Informasi ini, sungguh, sangat menggelitik logika kita. Kenapa demikian? Sebab ternyata kekekalan Surga dan Neraka itu – menurut ayat ini – tergantung kepada kondisi lainnya, yaitu keberadaan langit dan bumi alias alam semesta.
Dengan kata lain, Akhirat itu akan kekal jika langit dan bumi atau alam semesta ini juga kekal. Sehingga, kalau suatu ketika alam semesta ini mengalami kehancuran, maka alam Akhirat juga bakal mengalami hal yang sama, kehancuran.” (halaman 234)
Mari diikuti nasehatnya agar tidak terjebak pada pemahaman sebagian atau parsial, maka buat penafsiran secara menyeluruh dan komprehensif.
Maadaamati-l’s-Samaawaatu wa-l’ardlu illaa maa syaa-a Rabbuka مَادَامَتِ السَّمٰوٰتُ ) وَالاَرْضُ اِلاَّ مَا شَاءَ رَبُّكَ (, selama ada Al’s-Samaa-waat dan Bumi kecuali apapun yang Rabb-kau kehendaki. Baiklah jika ayat ini tidak ditafsirkan sebagai kiasan – sebagaimana dijelaskan pada catatan kaki no.736 : “Ini adalah kata kiasan yang maksudnya ialah : menjelaskan kekalnya mereka dalam neraka selama-lamanya.” (Al-Qur’an dan Terjemahnya, edisi 1973/1974, halaman 343) – ayat itu diikuti “kecuali apapun yang Rabb-kau kehendaki”. Diktum yang menunjukkan kemahakuasaan-Nya yang mutlak. Dan ternyata Allah menghendaki negeri akhirat itu adalah Al’s-Samaawaat dan Bumi ‘yang lain’ .
Bukankah Akhirat itu adalah Bumi dan langit itu sendiri yang sudah direhabilitasi menjadi Bumi dan langit ‘yang lain’. Jika Akhirat itu negeri-kekal, yang notabene adalah Bumi dan langit ‘yang lain’ itu, tentulah Bumi dan langit ‘yang lain’ itu pun kekal juga. Di sini tidak ada kematian atau kebinasaan atau kepunahan. Itulah makna ‘baqaa’. Bertolak belakang dengan asumsi teori alam menciut yang menuju ketiadaan.
Sebenarnya ada terjemahan ayat – sudah dikutipnya juga pada halaman 222, tetapi tidak diargumentasikan – yang men dukung ketidak-kekalan Akhirat, yaitu Surah Al’n-Naba’ 78:23 berikut ini :
لٰبِثِيْنَ فِيْهَا أَحْقَاباً (اَلنَّبأ ۷۸:۲۳)
“mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.” (Al’n-Naba’ 78:23)
Berabad-abad, jelas tidaklah kekal. Menerjemahkan ‘ahqaab’ dengan ‘berabad abad’ tidaklah salah. Akan tetapi, menafsirkan ‘ahqaaban’ pada ayat ini dengan ‘berabad-abad’, jelas kontradiktif dengan relasi ayatnya, yang karenanya tidak dibenarkan, sebagaimana dinyatakan Surah Al’n-Nisaa-a 4:82 ini :
فَلاَ يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُواْ فِيْهِ اخْتِلاَفاً كَثِيْراً (اَلنِّسَاءُ ۴:۸۲)
“Maka tidakkah mereka memperhatikan Al Qur’an ? sekira ada (Al Qur’an itu) dari sisi bukan Allah, tentulah mereka mendapati padanya pertentangan yang banyak.”
(Al’n-Nisaa-u 4:82)
“Ahqaab” (أَحْقَابُ) berarti “al-muddati mina’l-waqti” (اَلْمُدَّةِ مِنَ الْوَقْتِ) kurun-waktu, yaitu maasa, tahun, bahkan delapan-puluh tahun atau lebih. Itulah makna “al’d-dahri” (اَلدَّهْرِ). Maka diterjemahkanlah ‘ahqaab’ dengan ‘berabad-abad’. Namun “al’d-dahri” bermaknakan juga “kekal selama-lamanya”, ketika mengartikan “dahriyyun” adalah orang yang berpendapat, bahwa alam ini bersifat azali, kekal selama-lamanya (Al-Munjid, halaman 144; Al-Marbawi, halaman 309). Artian ini yang mesti diterjemahkan bagi ‘ahqaaban’ itu, sesuai dengan relasi ayatnya tentang Akhirat: “Mereka tinggal di dalamnya kekal selama-lamanya.” (Al’n-Naba’ 78:23)
Kerancuan ini berpangkal pada pemahaman konstruksi ‘kiamat’ yang selama ini dipahami bermaknakan : kehancuran alam-semesta, dan kebangkitan kembali alam semesta. Jika tidak teliti memilah indikasinya, maka terjadi kerancuan.
Lebih lanjut, dipahaminya bahwa ‘kiamat’ kehancuran itu pada mulanya hanya terjadi di Bumi saja (shughra), lalu dibina kembali sebagai Akhirat (kebangkitan kembali), dan berakhir atau hancur lagi saat ‘kiamat’ alam-semesta (kubra), dan … lenyap dalam ketiadaan, kembali kepada Allah.
KIAMAT







