Ane angkat dari kisah nyata yg ane alami beberapa tahun yg lalu.
Jakarta siang hari. Saat itu didalam bus kota jurusan Senen – Cimone penuh sesak. Pada kursi baris kedua di belakang sopir, duduk manis seorang lelaki berbaju gamis lengkap dengan jenggot yang tertata rapi. Usia kira – kira 30-an tahun atau mungkin 10 tahun lebih tua dari ane.
Di tangannya nampak Quran mungil bersampul hitam dan dengan khusyu’ dia membacanya tanpa suara. Ane saat itu mengamatinya dari belakang..berdiri seperti penumpang lain yang tidak kebagian kursi.
Saat itu naik seorang ibu hamil dari pintu depan, sepertinya naik dari halte Gambir. Ibu itu berdiri tepat disamping lelaki ber Quran tersebut. Namun miris dihati..lelaki itu seolah cuek dengan keberadaan ibu hamil yang berdiri disampingnya.. lelaki itu tetap khusyu’ dengan huruf2 arab di depannya.
Padahal dalam hemat ane yg awam ini, mempersilahkan ibu hamil untuk duduk di kursi yg lelaki itu tempati merupakan sebuah implementasi nyata dari apa yg sedang dia baca.
Kalau menurut anda semua?
Toto







